<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita dalam Bahasa &#187; Tuhan</title>
	<atom:link href="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/tag/tuhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com</link>
	<description>Ketika Saya Mencoba Menulis dalam Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 May 2010 13:25:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Surat Untuk Ateis</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 12:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[
Halo teman-teman penganut paham Ateis di luar sana :)
Pertama-tama, saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Dunia sudah masuk zaman Twitter sekarang; zaman orang bacot sana-sini sudah biasa, tho?
Perkenalkan, nama saya Puti. Saya orang Islam, dan saya percaya Tuhan. Saya memanggil tuhan saya &#8216;Allah SWT&#8217;. Iya, &#8216;panggilan&#8217;, sebab begitulah saya menyebut-Nya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-171 aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/05/pohon.jpg" alt="" width="420" height="278" /></p>
<blockquote><p>Halo teman-teman penganut paham Ateis di luar sana :)</p>
<p>Pertama-tama, saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Dunia sudah masuk zaman Twitter sekarang; zaman orang <em>bacot</em> sana-sini sudah biasa, <em>tho</em>?</p>
<p>Perkenalkan, nama saya Puti. Saya orang Islam, dan saya percaya Tuhan. Saya memanggil tuhan saya &#8216;Allah SWT&#8217;. Iya, &#8216;panggilan&#8217;, sebab begitulah saya menyebut-Nya. Panggilan bukan definisi. Panggilan, atau nama boleh jadi objektif, dimana jutaan orang lainnya memanggil tuhan saya dengan kata yang sama. Namun definisi adalah subjektif.</p>
<p>Adalah hal yang sangat sulit mendefinisikan Tuhan. Bagi saya, Tuhan terlalu istimewa untuk didefinisikan. Seperti cinta. Seperti cinta juga, walaupun saya tidak dapat mendefinisikannya tapi saya percaya. Saya percaya pada Tuhan saya, Allah SWT. Saya percaya Dia ada. Entah bagaimana menjelaskan caraNya mengawasi saya, melindungi saya, menyayangi saya, tapi saya merasakannya.</p>
<p>Saya sendiri merasa beruntung percaya bahwa Dia ada. Saya percaya bahwa Dia ada dan Maha Kuasa. Ketika saya menginginkan dapat beasiswa, saya berdoa (<em>tentu berusaha juga</em>). Ketika takut karena saya sering mimpi buruk, saya membaca ayat kursi. Ketika saya mendapat rezeki, saya bersyukur, dan saya percaya, ketika kita bersyukur, rezeki saya akan ditambah lagi. Ketika ibu saya menderita tumor di kepala, saya berdoa dan bernazar (<em>alhamdulillah, ibu saya sembuh</em>). Seharusnya lebih dari sekedar punya orang tua yang sangat kaya, punya Tuhan lebih dari luar biasa.</p>
<p>Doa-doa saya ada yang tidak dikabulkan. Saya tidak lolos pertukaran pelajar waktu SMA walaupun sudah belajar mati-matian. Awal tahun 2008, saya berdoa supaya punya pacar tahun itu, tapi <em>toh</em> tidak terkabul juga, hehe. Banyak juga sih yang &#8217;seolah&#8217; tidak dijawabNya. Seperti dulu waktu kecil saya minta kepada orang tua untuk dibelikan PlayStation, tapi Ayah saya tidak mau membelikan. Namun beberapa bulan kemudian saya dibelikan komputer. <em>Hal yang lebih baik daripada yang saya minta</em>. Saya mengerti, Tuhan juga begitu. Mungkin kalau dulu saya ikut pertukaran pelajar, mungkin saya tidak di Geologi ITB sekarang. Dan soal pacar, sekarang saya punya pacar loh. Pacar saya sekarang bukan seperti yang saya sebut dalam doa, tapi tidak apa-apa kok. Dia sahabat saya :)</p>
<p>Teman-teman, saya hanya sekedar bercerita loh. Jangan menganggap saya men<em>judge </em>kalian jahat karena tidak percaya Tuhan ya. Saya senang berbagi, dan saya senang juga dibagi. Jadi saya juga suka bertanya. Kemudian pertanyaan saya adalah, <em>tidak sedihkah teman-teman tidak (merasa) punya Tuhan?</em> :(</p>
<p>Menyenangkan loh (merasa) punya Tuhan :)</p>
<p>Teman-teman, lain kali kita sambung lagi ya.</p>
<p>
Salam,</p>
<p>Puti Karina Puar</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agnostik</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 03:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. <em>Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan</em>, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil <em>wudlu</em> minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.</p>
<p>Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?</p>
<p>Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. <strong>Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
