<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita dalam Bahasa &#187; Indonesia</title>
	<atom:link href="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com</link>
	<description>Ketika Saya Mencoba Menulis dalam Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 May 2010 13:25:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/07/22/malu-aku-jadi-orang-indonesia/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/07/22/malu-aku-jadi-orang-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 13:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Begini Taufiq Ismail pernah membuat puisi.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begini <strong>Taufiq Ismail</strong> pernah membuat puisi.</p>
<blockquote><div id="attachment_55" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2009/07/taufiqismail1.jpg" alt="Taufiq Ismail" title="taufiqismail" width="150" height="164" class="size-full wp-image-55" /><p class="wp-caption-text">Taufiq Ismail</p></div>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">I</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga<br />
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa<br />
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya<br />
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia<br />
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia<br />
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda<br />
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,<br />
Whitefish Bay kampung asalnya<br />
Kagum dia pada revolusi Indonesia<br />
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya<br />
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama<br />
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya<br />
Dadaku busung jadi anak Indonesia<br />
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy<br />
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University<br />
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army<br />
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri<br />
Mengapa sering benar aku merunduk kini</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">II</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak<br />
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak<br />
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,<br />
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza<br />
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia<br />
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata<br />
Dan kubenamkan topi baret di kepala<br />
Malu aku jadi orang Indonesia.</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">III</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,<br />
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi<br />
berterang-terang curang susah dicari tandingan,<br />
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu<br />
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek<br />
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,<br />
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,<br />
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan<br />
peuyeum dipotong birokrasi<br />
lebih separuh masuk kantung jas safari,<br />
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,<br />
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,<br />
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,<br />
agar orangtua mereka bersenang hati,<br />
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum<br />
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas<br />
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,<br />
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan<br />
sandiwara yang opininya bersilang tak habis<br />
dan tak utus dilarang-larang,<br />
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata<br />
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,<br />
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,<br />
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,<br />
sekarang saja sementara mereka kalah,<br />
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka<br />
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,<br />
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia<br />
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,<br />
kabarnya dengan sepotong SK<br />
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,<br />
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,<br />
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,<br />
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,<br />
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,<br />
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat<br />
jadi pertunjukan teror penonton antarkota<br />
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita<br />
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan<br />
yang disetujui bersama,</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">Di negeriku rupanya sudah diputuskan<br />
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,<br />
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil<br />
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,<br />
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,<br />
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan<br />
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,<br />
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,<br />
Nipah, Santa Cruz dan Irian,<br />
ada pula pembantahan terang-terangan<br />
yang merupakan dusta terang-terangan<br />
di bawah cahaya surya terang-terangan,<br />
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai<br />
saksi terang-terangan,<br />
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,<br />
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang<br />
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">IV</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak<br />
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak<br />
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,<br />
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza<br />
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia<br />
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata<br />
Dan kubenamkan topi baret di kepala<br />
Malu aku jadi orang Indonesia.</p>
<p style="font-size:90%; line-height: 9px;">1998</p>
</blockquote>
<p>Saya memang belum membaca semua karya Taufiq Ismail, tapi dari yang saya telah baca dan saya dengar, saya mengagumi Beliau.</p>
<p>Taufiq Ismail malu jadi orang Indonesia. Tapi dia sudah membaca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970.</p>
<p><strong>Jadi kalau saya sudah dari sekarang sudah malu jadi orang Indonesia, maka seumur hidup, yang bisa saya berikan pada negeri ini hanya &#8216;kemaluan&#8217;.</strong> Lalu malu saya pada John F Kennedy. Lalu malu saya pada Taufiq Ismail.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/07/22/malu-aku-jadi-orang-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
