Cerita dari Boko

July 14th, 2009 # 0

Waktu itu tidak cuma ada Boko, rumput hijau, dan langit senja. Ada Kami yang membawa kamera dan memotret dari tumpukan batu, atau ke tumpukan batu.

Ada kami, dan ada bapak ini. Dia memotong rumput yang telah terbiarkan tumbuh tidak patuh. Rumput yang memang harus dipotong bukan karena dia akan menutupi Boko (rumput toh tidak akan tumbuh setinggi itu) tapi karena jika tidak dipotong, Boko akan terlihat cuma sebagai sisa Jawa. Batu-batu yang padu, tapi tidak disinggahi. Batu-batu yang bermakna, tapi tidak dimengerti.

Teman saya, namanya Tyo, lalu memotret Bapak ini. Ironi yang menarik. Fotografi digital, dan suara rumput yang dibabat oleh sabit berkarat. Bunyinya analog dan mengalahkan bunyi yang dibiayai oleh baterai. Saya mendengar pembicaraan mereka.

Tyo mau mengirim hasil fotonya kepada si Bapak. Saat si Bapak menjawab di mana alamatnya, saya masih memotret alang-alang dan batu-batu. Namun saya perhatikan dia. Pakaian dengan warna pudar dan kulit yang keriput. Logat Jawa kental merinci alamat rumah yang tidak memiliki angka. Dia tersenyum sumringah waktu tahu akan memiliki potret diri.

Ikhlas sekali dia pada Jogjakarta.

Saya memotret mereka.

Cerita dari Boko

Lalu kembali memotret alang-alang dan batu-batu.

Anda berada pada

Anda sedang membaca tulisan-tulisan dengan dengan tag humanisme pada Cerita dalam Bahasa.