Aku Ingin

January 7th, 2010 # 0

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

—Sapardi Djoko Darmono

Ya, dengan sederhana.

Agnostik

January 3rd, 2010 # 0

Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil wudlu minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.

Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?

Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Adaptasi

January 1st, 2010 # 0

Saya adalah orang yang luar biasa sulit beradaptasi. Dengan zona nyaman yang sudah cukup luas, kadang saya enggan berekspansi. Kalau tidak terpaksa, saya tidak mau bersusah payah beramah tamah untuk hal yang baru. Saya malas. Atau saya khawatir semua tidak berjalan berjalan dengan sempurna, entah.

Kalau terpaksa, saya mencoba. Ada terlalu banyak alasan yang melatarbelakangi sebuah keputusan. Keputusan yang signifikan, dimana adaptasi adalah gerbang. Seberapa panjang jalan, tidaklah dipersoalkan. Namun, bisakah?

Satu, dua, dua belas keraguan ada. Saya mempertanyakan, pada diri sendiri. Bisakah? Berbagi, mengucap, memperhatikan dengan seksama. Bersabar. Berbahasa, dan menyisihkan sedikit, ataupun berkorban banyak waktu, untuk berpikir. Mempersiapkan, dan berubah. Menyesuaikan. Bersabar (disebut lagi karena ini penting). Melapangkan spasi.

Satu, dua, dua belas keraguan ada. Satu kadang menjadi dua, dan kadang dua menjadi satu. Dua bisa menjadi segala. Terlalu banyak hal yang baru. Terlalu banyak kemungkinan. Dan saya malas bertanya kembali: bisakah?

Satu jawaban, dengan lebih dari dua belas kemungkinan. Namun, seharusnya bisa, dalam kasus ini. Saat ini.

Terima kasih telah menjadi tidak terlalu asing.
Selamat beradaptasi, bersama-sama.

Kalau Badai Datang Malam Ini

October 7th, 2009 # 3

Kalau badai datang malam ini, saya ingin semua orang berada dalam rumah.
Termasuk para pengamen di jalanan, bersama dawai mereka.
Juga penjual bunga, juga orang-orang schizophrenia.

Kalau badai datang malam ini, saya ingin semua korban gempa merasa aman.
Walaupun mereka dalam pengungsian, dan menunggu lalu diam.
Tidak bicara, tapi jangan terluka.

Kalau badai datang malam ini, saya akan membuka pintu sedikit. Jendela sedikit.
Membuat teh hangat, dan menunggu domba-domba untuk dihitung.
Dan belasan alasan untuk tidur.

Kalau badai datang malam ini, saya ingin dia ada.
Seperti biasa, ketika tidak ada badai.
Saya ingin dia tahu.

Kalau badai datang malam ini…

Kombinasi

July 23rd, 2009 # 0

Saya pernah mengalaminya:
Orang yang benar pada saat yang salah.
Orang yang salah pada saat yang benar.

Apalagi:
Orang yang salah pada saat yang salah.

S B S B B S B S B B S B S S B S S B B
B S S S B B S S B S B B S B B S B S B
S S S S B S B S B S S B S S B S S S B
S S S S S S B S B S S B S S S S S S B
S S S S S S S S B S S S S S S S S S S
S S S S S S S S S S S S S S S S S S S

Variabel-variabel saya tidak pernah sederhana.
Sulit membuatnya jadi:
Orang yang benar pada saat yang benar.

Anda berada pada

Anda sedang membaca tulisan-tulisan dengan dengan tag cinta pada Cerita dalam Bahasa.