Saya kira kita semua punya kebutuhan akan aksara. Akan kata-kata, atau setidaknya tanda baca. Dalam agama saya, pertama kali sekali Tuhan bilang:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (QS. 96:1)
Hanya kadang kita tidak memenuhi kebutuhan itu. Seperti anak kecil yang tidak suka sayuran, atau minyak hati ikan cod. Kita tidak pernah terpaksa. Kebutuhan itu kita penuhi dengan substitusi yang lebih berwarna, baik billboard besar-besar, atau televisi.
Berdasarkan hasil temua UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklain sebagai bangsa besar.
‘Minat Baca, Siapa Peduli?‘ Oleh Hikmat Kurnia
