Skip to content

Kapan Kita ke Pantai?

Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.

Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.

Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.

Categories: Tulisan Pendek.

Tags: ,

Hujan Lagi Malam Ini

Malam ini hujan lagi,
seperti kemarin, dan dua hari, atau sekian hari yang lalu
saat tanah dan rumput basah, tanpa sinar matahari,
tanpa drama, dan tidak akan ada pelangi

Sepertinya perpanjangan musim hujan adalah keputusan.
Karena terlalu banyak yang harus dicuci:
dosa saya, dosa anda, dosa kita saat mengingkari janji atas belantara
Karena terlalu banyak yang harus dialiri agar seharusnya:
selokan, sungai, dan baskom-baskom yang menunggu di bawah celah kebocoran yang menganga
Karena terlalu banyak yang harus dihentikan:
api, dan pemantiknya, dan puntung-puntung yang setengah menyala
Karena terlalu banyak yang tidak boleh dibiarkan kering:
penghijauan, atau mata-mata yang sudah habis airnya, saat menangis meminta

Malam ini hujan lagi,
berjayalah klenteng-klenteng dan seisinya
keputusan adalah berkat
dan naga, tidak akan pernah sembunyi karenanya

Categories: Baris-baris.

Tags:

Malam Sebelum Pulang

Selalu ada yang memberatkan gerakan tangan untuk berkemas, dan memperlambat kaki untuk berjalan, pada malam sebelum pulang. Entah apa definisi pulang, tapi saya memaknainya sebagai kembali ke rumah, dan rumah seharusnya adalah di manapun hati berada.

Saya kembali cepat, namun sulit sekali rasanya untuk terlelap.

Semoga semuanya baik-baik saja.

Categories: Alinea Pendek.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

—Sapardi Djoko Darmono

Ya, dengan sederhana.

Categories: Kutipan.

Tags:

Bandung

Setiap kali saya menginjakkan kaki di kota ini setelah membuka pinta mobil, atau turun dari kereta dengan ransel bersandar pada punggung, hadir rasa lega. Lega bahwa kota ini masih di sini dan menjadi latar dari ribuan saga dan bagian dari memori. Memori para penghuni sejak lama, mahasiswa (dari yang mirip mahasiswa sampai yang tidak mirip sama sekali), atau para pengunjung yang datang dengan tujuan belanja di factory outlet. Salon Memori dan jalan Dago. Supermarket atau pasar tradisional. Kopi atau tidak kopi. Kantor pos dan alun-alun. Bahan bermeter-meter dan tukang permak. Hujan atau tidak hujan. Pengamen berbiola dan tukang bunga. Gasibu atau pasar Jumat Salman.

Jalan Ganeca.

Lega bahwa kota ini masih ada pada koordinat yang sama. Lega bahwa ketika ruang antar mobil dan atau antar manusia semakin sempit, selalu ada sisa bagi saya untuk menulis. Menulis saga saya sendiri.

Rasa lega sudah sampai.

Rasanya, pulang.

Categories: Tulisan Pendek.

Tags:

Agnostik

Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil wudlu minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.

Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?

Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Categories: Tulisan Pendek.

Tags: ,