Setengah dari kejahatan yang terjadi di bumi ini diakibatkan oleh orang-orang yang ingin merasa dirinya penting.
TS Eliot
Setengah dari
August 8th, 2009 # 0
Kita Abu-Abu
August 8th, 2009 # 2
Kebenaran itu tidak hitam dan putih, sebagaimana bumi itu bukan datar dan disangga oleh empat gajah dan kura-kura. Kita ada pada relativitas dimana batas benar salah adalah maya dan setiap ideologi tidak ada yang sempurna lalu mata kita hanya dua. Kita ada di kanan orang di utara dan di kiri orang di selatan. Kita tidak sebaiknya merasa benar, karena kita, selalu abu-abu.
Kadang cara paling sederhana untuk benar adalah dengan tidak tahu.
Jangan bicara kebenaran absolut. Nanti kita bicara Tuhan.
Kita Selalu Punya
August 8th, 2009 # 0
Kita selalu punya terlalu banyak kekhawatiran atas hidup lalu mati. 365 dalam setahun. 24 dalam satu hari. 60 dalam satu menit. Padahal kita tau kita fana.
Kita tahu semua dupa akan padam, sebagaimana semua kembang api akan terlontar, lalu hilang oleh malam. Kita tahu semua lilin yang hidup akan mati, sambil merembeti kue ulang tahun, dengan atau tanpa krim dan buah ceri. Kita tahu tiap buku akan selesai dengan sampul belakang setelah halaman-halaman kosong, dan akhir cerita. Kita tahu mereka tidak berhasil: dari Gilgamesh dari Mesopotamia kuno, sampai Lord Voldemort yang direka di abad 21.
Kita tahu kita bukan hujan, yang kekal, tapi tidak hidup. Yang tidak hidup tapi memberi kehidupan.
Kita perlu belajar untuk rela. Rela dan mengikhlaskan.
Sebenarnya
August 3rd, 2009 # 0
Ada banyak hal yang orang-orang tidak tahu tentang saya.
Salah satunya adalah: sebenarnya saya mudah terluka.
Kata Garin Nugroho Tadi:
July 25th, 2009 # 1
Kalau Anda mau mencipta, siap-siaplah kesepian. Kalau mau rame-rame, sana nonton bola saja.
Orang ini jenius. Dan melegakan, bahwa saya tidak sendirian merasa kesepian.
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
July 22nd, 2009 # 0
Begini Taufiq Ismail pernah membuat puisi.
Taufiq Ismail
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kiniII
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.1998
Saya memang belum membaca semua karya Taufiq Ismail, tapi dari yang saya telah baca dan saya dengar, saya mengagumi Beliau.
Taufiq Ismail malu jadi orang Indonesia. Tapi dia sudah membaca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970.
Jadi kalau saya sudah dari sekarang sudah malu jadi orang Indonesia, maka seumur hidup, yang bisa saya berikan pada negeri ini hanya ‘kemaluan’. Lalu malu saya pada John F Kennedy. Lalu malu saya pada Taufiq Ismail.
Kebutuhan akan Aksara
July 22nd, 2009 # 0
Saya kira kita semua punya kebutuhan akan aksara. Akan kata-kata, atau setidaknya tanda baca. Dalam agama saya, pertama kali sekali Tuhan bilang:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (QS. 96:1)
Hanya kadang kita tidak memenuhi kebutuhan itu. Seperti anak kecil yang tidak suka sayuran, atau minyak hati ikan cod. Kita tidak pernah terpaksa. Kebutuhan itu kita penuhi dengan substitusi yang lebih berwarna, baik billboard besar-besar, atau televisi.
Berdasarkan hasil temua UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklain sebagai bangsa besar.
‘Minat Baca, Siapa Peduli?‘ Oleh Hikmat Kurnia
Selalu Ada
July 21st, 2009 # 0
Selalu ada cerita di balik sebuah cerita, dongeng di balik sebuah dongeng, yang tidak pernah terungkap. Sebagian masih ada, bertahan, dan tertahan. Sebagian punah, atau dipunahkan.
Oleh karena itu kita selalu belajar untuk ditipu oleh sejarah.
Cerita dari Boko
July 14th, 2009 # 0
Waktu itu tidak cuma ada Boko, rumput hijau, dan langit senja. Ada Kami yang membawa kamera dan memotret dari tumpukan batu, atau ke tumpukan batu.
Ada kami, dan ada bapak ini. Dia memotong rumput yang telah terbiarkan tumbuh tidak patuh. Rumput yang memang harus dipotong bukan karena dia akan menutupi Boko (rumput toh tidak akan tumbuh setinggi itu) tapi karena jika tidak dipotong, Boko akan terlihat cuma sebagai sisa Jawa. Batu-batu yang padu, tapi tidak disinggahi. Batu-batu yang bermakna, tapi tidak dimengerti.
Teman saya, namanya Tyo, lalu memotret Bapak ini. Ironi yang menarik. Fotografi digital, dan suara rumput yang dibabat oleh sabit berkarat. Bunyinya analog dan mengalahkan bunyi yang dibiayai oleh baterai. Saya mendengar pembicaraan mereka.
Tyo mau mengirim hasil fotonya kepada si Bapak. Saat si Bapak menjawab di mana alamatnya, saya masih memotret alang-alang dan batu-batu. Namun saya perhatikan dia. Pakaian dengan warna pudar dan kulit yang keriput. Logat Jawa kental merinci alamat rumah yang tidak memiliki angka. Dia tersenyum sumringah waktu tahu akan memiliki potret diri.
Ikhlas sekali dia pada Jogjakarta.
Saya memotret mereka.

…
Lalu kembali memotret alang-alang dan batu-batu.


Nama saya Puti Karina Puar. Secara pendek bisa dipanggil dan ditulis dengan Puty. Tinggal di Bandung untuk kuliah, sesekali pulang ke Bekasi atau berjalan-jalan ke Jakarta. Suka membaca, fotografi, dan minum kopi.