<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita dalam Bahasa &#187; Tulisan Pendek</title>
	<atom:link href="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/category/tulisan-pendek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com</link>
	<description>Ketika Saya Mencoba Menulis dalam Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 May 2010 13:25:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Surat Untuk Ateis</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 12:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[
Halo teman-teman penganut paham Ateis di luar sana :)
Pertama-tama, saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Dunia sudah masuk zaman Twitter sekarang; zaman orang bacot sana-sini sudah biasa, tho?
Perkenalkan, nama saya Puti. Saya orang Islam, dan saya percaya Tuhan. Saya memanggil tuhan saya &#8216;Allah SWT&#8217;. Iya, &#8216;panggilan&#8217;, sebab begitulah saya menyebut-Nya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-171 aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/05/pohon.jpg" alt="" width="420" height="278" /></p>
<blockquote><p>Halo teman-teman penganut paham Ateis di luar sana :)</p>
<p>Pertama-tama, saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Dunia sudah masuk zaman Twitter sekarang; zaman orang <em>bacot</em> sana-sini sudah biasa, <em>tho</em>?</p>
<p>Perkenalkan, nama saya Puti. Saya orang Islam, dan saya percaya Tuhan. Saya memanggil tuhan saya &#8216;Allah SWT&#8217;. Iya, &#8216;panggilan&#8217;, sebab begitulah saya menyebut-Nya. Panggilan bukan definisi. Panggilan, atau nama boleh jadi objektif, dimana jutaan orang lainnya memanggil tuhan saya dengan kata yang sama. Namun definisi adalah subjektif.</p>
<p>Adalah hal yang sangat sulit mendefinisikan Tuhan. Bagi saya, Tuhan terlalu istimewa untuk didefinisikan. Seperti cinta. Seperti cinta juga, walaupun saya tidak dapat mendefinisikannya tapi saya percaya. Saya percaya pada Tuhan saya, Allah SWT. Saya percaya Dia ada. Entah bagaimana menjelaskan caraNya mengawasi saya, melindungi saya, menyayangi saya, tapi saya merasakannya.</p>
<p>Saya sendiri merasa beruntung percaya bahwa Dia ada. Saya percaya bahwa Dia ada dan Maha Kuasa. Ketika saya menginginkan dapat beasiswa, saya berdoa (<em>tentu berusaha juga</em>). Ketika takut karena saya sering mimpi buruk, saya membaca ayat kursi. Ketika saya mendapat rezeki, saya bersyukur, dan saya percaya, ketika kita bersyukur, rezeki saya akan ditambah lagi. Ketika ibu saya menderita tumor di kepala, saya berdoa dan bernazar (<em>alhamdulillah, ibu saya sembuh</em>). Seharusnya lebih dari sekedar punya orang tua yang sangat kaya, punya Tuhan lebih dari luar biasa.</p>
<p>Doa-doa saya ada yang tidak dikabulkan. Saya tidak lolos pertukaran pelajar waktu SMA walaupun sudah belajar mati-matian. Awal tahun 2008, saya berdoa supaya punya pacar tahun itu, tapi <em>toh</em> tidak terkabul juga, hehe. Banyak juga sih yang &#8217;seolah&#8217; tidak dijawabNya. Seperti dulu waktu kecil saya minta kepada orang tua untuk dibelikan PlayStation, tapi Ayah saya tidak mau membelikan. Namun beberapa bulan kemudian saya dibelikan komputer. <em>Hal yang lebih baik daripada yang saya minta</em>. Saya mengerti, Tuhan juga begitu. Mungkin kalau dulu saya ikut pertukaran pelajar, mungkin saya tidak di Geologi ITB sekarang. Dan soal pacar, sekarang saya punya pacar loh. Pacar saya sekarang bukan seperti yang saya sebut dalam doa, tapi tidak apa-apa kok. Dia sahabat saya :)</p>
<p>Teman-teman, saya hanya sekedar bercerita loh. Jangan menganggap saya men<em>judge </em>kalian jahat karena tidak percaya Tuhan ya. Saya senang berbagi, dan saya senang juga dibagi. Jadi saya juga suka bertanya. Kemudian pertanyaan saya adalah, <em>tidak sedihkah teman-teman tidak (merasa) punya Tuhan?</em> :(</p>
<p>Menyenangkan loh (merasa) punya Tuhan :)</p>
<p>Teman-teman, lain kali kita sambung lagi ya.</p>
<p>
Salam,</p>
<p>Puti Karina Puar</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/05/15/surat-untuk-ateis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisuda April 2010</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/04/12/wisuda-april-2010/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/04/12/wisuda-april-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 02:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[
Katakan wisuda, dan kebanyakan orang akan berpikir tentang toga. Namun yang ada di dalam adalah sebuah pencapaian. Pencapaian atas rangkaian mimpi; mimpi untuk masuk, mimpi untuk bertahan, diakhiri dengan mimpi untuk keluar dan menyandang Ganesha di dada.
Kalian telah sampai, dan harus segera berangkat lagi. Harus ada mimpi-mimpi baru yang lebih tinggi pada hati yang tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/04/gea.jpg" alt="" /></p>
<p>Katakan wisuda, dan kebanyakan orang akan berpikir tentang toga. Namun yang ada di dalam adalah sebuah pencapaian. Pencapaian atas rangkaian mimpi; mimpi untuk masuk, mimpi untuk bertahan, diakhiri dengan mimpi untuk keluar dan menyandang Ganesha di dada.</p>
<p>Kalian telah sampai, dan harus segera berangkat lagi. Harus ada mimpi-mimpi baru yang lebih tinggi pada hati yang tetap sederhana. Besok, lusa, dan seterusnya, kalian akan datang sebagai tamu kami. Jadi, selamat mengembara, dan buatlah kami semua bangga.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Katakan wisuda, kami mendefinisikannya sebagai, <em>&#8220;selamat untuk segalanya.&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/04/12/wisuda-april-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Kita ke Pantai?</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/03/17/kapan-kita-ke-pantai/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/03/17/kapan-kita-ke-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 10:23:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[
Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?
Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-142  aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/03/pantai.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?</p>
<p>Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.</p>
<p>Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.</p>
<p>Jadi kapan kita ke pantai?</p>
<p>Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/03/17/kapan-kita-ke-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/07/bandung/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/07/bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 01:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap kali saya menginjakkan kaki di kota ini setelah membuka pinta mobil, atau turun dari kereta dengan ransel bersandar pada punggung, hadir rasa lega. Lega bahwa kota ini masih di sini dan menjadi latar dari ribuan saga dan bagian dari memori. Memori para penghuni sejak lama, mahasiswa (dari yang mirip mahasiswa sampai yang tidak mirip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-119 aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/01/bandung.jpg" alt="" width="420" height="281" /></p>
<p>Setiap kali saya menginjakkan kaki di kota ini setelah membuka pinta mobil, atau turun dari kereta dengan ransel bersandar pada punggung, hadir rasa lega. Lega bahwa kota ini masih di sini dan menjadi latar dari ribuan saga dan bagian dari memori. Memori para penghuni sejak lama, mahasiswa (dari yang mirip mahasiswa sampai yang tidak mirip sama sekali), atau para pengunjung yang datang dengan tujuan belanja di factory outlet. <em>Salon Memori dan jalan Dago</em>. Supermarket atau pasar tradisional. Kopi atau tidak kopi. Kantor pos dan alun-alun. Bahan bermeter-meter dan tukang permak. Hujan atau tidak hujan. Pengamen berbiola dan tukang bunga. Gasibu atau pasar Jumat Salman.</p>
<p><em>Jalan Ganeca.</em></p>
<p>Lega bahwa kota ini masih ada pada koordinat yang sama. Lega bahwa ketika ruang antar mobil dan atau antar manusia semakin sempit, selalu ada sisa bagi saya untuk menulis. Menulis saga saya sendiri.</p>
<p><em>Rasa lega sudah sampai.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Rasanya, pulang.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/07/bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agnostik</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 03:07:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. <em>Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan</em>, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil <em>wudlu</em> minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.</p>
<p>Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?</p>
<p>Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. <strong>Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/03/agnostik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adaptasi</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/01/adaptasi/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/01/adaptasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 17:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[
Saya adalah orang yang luar biasa sulit beradaptasi. Dengan zona nyaman yang sudah cukup luas, kadang saya enggan berekspansi. Kalau tidak terpaksa, saya tidak mau bersusah payah beramah tamah untuk hal yang baru. Saya malas. Atau saya khawatir semua tidak berjalan berjalan dengan sempurna, entah.
Kalau terpaksa, saya mencoba. Ada terlalu banyak alasan yang melatarbelakangi sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-106 aligncenter" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2010/01/adaptasi.jpg" alt="" width="400" height="263" /></p>
<p>Saya adalah orang yang luar biasa sulit beradaptasi. Dengan zona nyaman yang sudah cukup luas, kadang saya enggan berekspansi. Kalau tidak terpaksa, saya tidak mau bersusah payah beramah tamah untuk hal yang baru. Saya malas. Atau saya khawatir semua tidak berjalan berjalan dengan sempurna, entah.</p>
<p>Kalau terpaksa, saya mencoba. Ada terlalu banyak alasan yang melatarbelakangi sebuah keputusan. Keputusan yang signifikan, dimana adaptasi adalah gerbang. Seberapa panjang jalan, tidaklah dipersoalkan. Namun, bisakah?</p>
<p>Satu, dua, dua belas keraguan ada. Saya mempertanyakan, pada diri sendiri. Bisakah? Berbagi, mengucap, memperhatikan dengan seksama. Bersabar. Berbahasa, dan menyisihkan sedikit, ataupun berkorban banyak waktu, untuk berpikir. Mempersiapkan, dan berubah. Menyesuaikan. Bersabar (disebut lagi karena ini penting). Melapangkan spasi.</p>
<p>Satu, dua, dua belas keraguan ada. Satu kadang menjadi dua, dan kadang dua menjadi satu. Dua bisa menjadi segala. Terlalu banyak hal yang baru. Terlalu banyak kemungkinan. Dan saya malas bertanya kembali: bisakah?</p>
<p>Satu jawaban, dengan lebih dari dua belas kemungkinan. Namun, <strong>seharusnya bisa</strong>, dalam kasus ini. Saat ini.</p>
<p><em>Terima kasih telah menjadi tidak terlalu asing.<br />
Selamat beradaptasi, bersama-sama.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2010/01/01/adaptasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Duka</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/09/01/rumah-duka/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/09/01/rumah-duka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 08:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah rumah duka, tak terhitung jumlah tangisan yang sempat menggaung. Entah berapa bait doa, berapa juta nada misa, berapa rangkai rasa belasungkawa.
Tidak pernah ada yang menghitung.
Kesedihan yang ada adalah parsial dan diskontinu. Semua sibuk bersedih hari itu, lalu kebanyakan melupakan beberapa bulan kemudian. Beberapa menikah lagi. Dan tidak pernah ada statistik rumah duka.
Rumah duka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah rumah duka, tak terhitung jumlah tangisan yang sempat menggaung. Entah berapa bait doa, berapa juta nada misa, berapa rangkai rasa belasungkawa.</p>
<p>Tidak pernah ada yang menghitung.</p>
<p>Kesedihan yang ada adalah parsial dan diskontinu. Semua sibuk bersedih hari itu, lalu kebanyakan melupakan beberapa bulan kemudian. Beberapa menikah lagi. Dan tidak pernah ada statistik rumah duka.</p>
<p>Rumah duka dibangun untuk sementara. Sementara menampung. Menampung duka yang kemudian menguap, lewat setiap celah waktu yang pasti. Besok ada kesedihan yang baru lagi.</p>
<p>Begitulah kematian. Silih berganti, menghampiri milyaran manusia, terlihat acak, tapi tidak acak. Kadang terlihat wajar, kadang terdengar tidak adil. Mati tidak acak tapi niscaya. Mati tidak acak tapi rahasia.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Di sini, terakhir kali saya melihat <strong>Emma Antoinette Tahalea</strong>. Nenek saya.</em></p>
<p><em>Dalam peti putih, dengan alkitab dan baju kesayangannya. Dengan mata yang terpejam, rosario melingkar di tangan, dan beberapa pesan terakhir untuk saya yang tidak sempat terucapkan.</em></p>
<p><em>Semua seperti sama saja. Seperti biasa saya menyalakan AC kamar sebelum dia tidur, dan seperti besok dia akan bangun dan menyapa, &#8220;Morning, Puti,&#8221; dan saya akan menjawab, &#8220;Morning, Oma.&#8221;</em></p>
<p><em>Semua seperti sama saja. Seperti besok dia akan mengangkat telepon dengan canggung dan minta dijemput ke gereja.</em></p>
<p><em>Semua seperti sama saja. Seperti besok masih ada hari bersamanya.</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ini adalah salah satu cerita dari rumah duka. Cerita yang sempat tertulis, karena kebanyakan tidak tertulis.</p>
<p>Dan rumah duka, sesekali penuh bunga. Lalu kosong, kecuali bekas-bekas uap duka.</p>
<p>***</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Teruntuk Oma Netty. Oma paling cantik, dan paling baik di seluruh dunia.</em></strong></p>
<p style="text-align: right;"><em><strong>30 Agustus 2009</strong><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><img title="oma" src="http://cerita.dalambahasa.byputy.com/wp-content/uploads/2009/09/oma.jpg" alt="oma" width="400" height="300" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/09/01/rumah-duka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lalu Suara-Suara Sonar (Revisi)</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/11/lalu-suara-suara-sonar/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/11/lalu-suara-suara-sonar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam yang masa kini saya menonton pagelaran musik Rock. Akbar. Penuh dengan pria-pria berflanel, dan bir. Ya, wanitanya juga ada tentu saja, bajunya tentu masa kini. Saya datang dengan penampilan biasa-biasa saja. Saya bukan groupies, saya bukan anak gigs (begitu bahasa masa kini-nya). Saya hanya penikmat, dan sesekali bergoyang. Saya tidak datang dengan calon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam yang masa kini saya menonton pagelaran musik Rock. Akbar. Penuh dengan pria-pria berflanel, dan bir. Ya, wanitanya juga ada tentu saja, bajunya tentu masa kini. Saya datang dengan penampilan biasa-biasa saja. Saya bukan groupies, saya bukan anak gigs (begitu bahasa masa kini-nya). Saya hanya penikmat, dan sesekali bergoyang. Saya tidak datang dengan calon suami, dan tidak bawa lomo. Saya hanya berdiri di tengah, bersama anak-anak muda lain. Saya tidak berdoa. Saya lupa.</p>
<p><em>Saya hanya mau nonton Mew.</em></p>
<p>Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.<br />
Lalu suara-suara sonar.</p>
<p><em>Lalu suara-suara sonar.</em></p>
<p>***</p>
<blockquote><p style="font-size:80%;"><img class="alignright" src="http://www.columbia.co.uk/graphics/artists/218/44.jpg" alt="Mew" /><strong><a href="http://mewsite.com/">Mew</a></strong> adalah band asal Hellerup, Denmark, yang terbentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Jonas Bjerre (Vocalist), Bo Madsen (Guitarist), Silas Graae (Drummer) dan Johan Wohlert (Bassist) yang merupakan pendiri band tetapi keluar pada tahun 2006. Dua orang anggota pendukungnya adalah Nick Watts (Keyboardist) dan Sebastian Juel (Bassist) yang menggantikan Johan Wohlert. Mereka pindah ke London pada album yang keempat: <em>And The Glass Handed Kites</em>.</p>
<p style="font-size:80%;">Album <em>And The Glass Handed Kites</em> meraih pengahargaan sebagai album terbaik, Special sebagai video clip terbaik, Jonas Bjerre sebagai penyanyi terbaik dalam Danish Music Awards 2006.</p>
<p style="font-size:80%;">Mew tampil pada hari ketiga festival musik rock <a href="http://www.javarockingland.com/">Java Rockin&#8217; Land</a>, 9 Agustus 2009.</p>
<p style="font-size:80%;">(Berbagai sumber. Gambar dari <a href="http://www.columbia.co.uk/artists/mew/1903/">columbia.co.uk</a>)</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/11/lalu-suara-suara-sonar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Abu-Abu</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-abu-abu/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-abu-abu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 04:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalimat]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Kebenaran itu tidak hitam dan putih, sebagaimana bumi itu bukan datar dan disangga oleh empat gajah dan kura-kura. Kita ada pada relativitas dimana batas benar salah adalah maya dan setiap ideologi tidak ada yang sempurna lalu mata kita hanya dua. Kita ada di kanan orang di utara dan di kiri orang di selatan. Kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebenaran itu tidak hitam dan putih, sebagaimana bumi itu bukan datar dan disangga oleh empat gajah dan kura-kura. Kita ada pada relativitas dimana batas benar salah adalah maya dan setiap ideologi tidak ada yang sempurna lalu mata kita hanya dua. Kita ada di kanan orang di utara dan di kiri orang di selatan. Kita tidak sebaiknya merasa benar, karena kita, selalu abu-abu.</p>
<p><strong><strong>Kadang cara paling sederhana untuk benar adalah dengan tidak tahu</strong>.</strong></p>
<p>Jangan bicara kebenaran absolut. Nanti kita bicara Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-abu-abu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Selalu Punya</title>
		<link>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-selalu-punya/</link>
		<comments>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-selalu-punya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 04:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Puty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cerita.dalambahasa.byputy.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Kita selalu punya terlalu banyak kekhawatiran atas hidup lalu mati. 365 dalam setahun. 24 dalam satu hari. 60 dalam satu menit. Padahal kita tau kita fana.
Kita tahu semua dupa akan padam, sebagaimana semua kembang api akan terlontar, lalu hilang oleh malam. Kita tahu semua lilin yang hidup akan mati, sambil merembeti kue ulang tahun, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita selalu punya terlalu banyak kekhawatiran atas hidup lalu mati. 365 dalam setahun. 24 dalam satu hari. 60 dalam satu menit. Padahal kita tau kita fana.</p>
<p>Kita tahu semua dupa akan padam, sebagaimana semua kembang api akan terlontar, lalu hilang oleh malam. Kita tahu semua lilin yang hidup akan mati, sambil merembeti kue ulang tahun, dengan atau tanpa krim dan buah ceri. Kita tahu tiap buku akan selesai dengan sampul belakang setelah halaman-halaman kosong, dan akhir cerita. Kita tahu mereka tidak berhasil: dari Gilgamesh dari Mesopotamia kuno, sampai Lord Voldemort yang direka di abad 21.</p>
<p>Kita tahu kita bukan hujan, yang kekal, tapi tidak hidup. Yang tidak hidup tapi memberi kehidupan.</p>
<p><em>Kita perlu belajar untuk rela. Rela dan mengikhlaskan.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cerita.dalambahasa.byputy.com/2009/08/08/kita-selalu-punya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
