January 7th, 2010 #

Setiap kali saya menginjakkan kaki di kota ini setelah membuka pinta mobil, atau turun dari kereta dengan ransel bersandar pada punggung, hadir rasa lega. Lega bahwa kota ini masih di sini dan menjadi latar dari ribuan saga dan bagian dari memori. Memori para penghuni sejak lama, mahasiswa (dari yang mirip mahasiswa sampai yang tidak mirip sama sekali), atau para pengunjung yang datang dengan tujuan belanja di factory outlet. Salon Memori dan jalan Dago. Supermarket atau pasar tradisional. Kopi atau tidak kopi. Kantor pos dan alun-alun. Bahan bermeter-meter dan tukang permak. Hujan atau tidak hujan. Pengamen berbiola dan tukang bunga. Gasibu atau pasar Jumat Salman.
Jalan Ganeca.
Lega bahwa kota ini masih ada pada koordinat yang sama. Lega bahwa ketika ruang antar mobil dan atau antar manusia semakin sempit, selalu ada sisa bagi saya untuk menulis. Menulis saga saya sendiri.
Rasa lega sudah sampai.
Rasanya, pulang.
January 3rd, 2010 #
Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil wudlu minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.
Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?
Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.
January 1st, 2010 #

Saya adalah orang yang luar biasa sulit beradaptasi. Dengan zona nyaman yang sudah cukup luas, kadang saya enggan berekspansi. Kalau tidak terpaksa, saya tidak mau bersusah payah beramah tamah untuk hal yang baru. Saya malas. Atau saya khawatir semua tidak berjalan berjalan dengan sempurna, entah.
Kalau terpaksa, saya mencoba. Ada terlalu banyak alasan yang melatarbelakangi sebuah keputusan. Keputusan yang signifikan, dimana adaptasi adalah gerbang. Seberapa panjang jalan, tidaklah dipersoalkan. Namun, bisakah?
Satu, dua, dua belas keraguan ada. Saya mempertanyakan, pada diri sendiri. Bisakah? Berbagi, mengucap, memperhatikan dengan seksama. Bersabar. Berbahasa, dan menyisihkan sedikit, ataupun berkorban banyak waktu, untuk berpikir. Mempersiapkan, dan berubah. Menyesuaikan. Bersabar (disebut lagi karena ini penting). Melapangkan spasi.
Satu, dua, dua belas keraguan ada. Satu kadang menjadi dua, dan kadang dua menjadi satu. Dua bisa menjadi segala. Terlalu banyak hal yang baru. Terlalu banyak kemungkinan. Dan saya malas bertanya kembali: bisakah?
Satu jawaban, dengan lebih dari dua belas kemungkinan. Namun, seharusnya bisa, dalam kasus ini. Saat ini.
Terima kasih telah menjadi tidak terlalu asing.
Selamat beradaptasi, bersama-sama.
September 1st, 2009 #
Dalam sebuah rumah duka, tak terhitung jumlah tangisan yang sempat menggaung. Entah berapa bait doa, berapa juta nada misa, berapa rangkai rasa belasungkawa.
Tidak pernah ada yang menghitung.
Kesedihan yang ada adalah parsial dan diskontinu. Semua sibuk bersedih hari itu, lalu kebanyakan melupakan beberapa bulan kemudian. Beberapa menikah lagi. Dan tidak pernah ada statistik rumah duka.
Rumah duka dibangun untuk sementara. Sementara menampung. Menampung duka yang kemudian menguap, lewat setiap celah waktu yang pasti. Besok ada kesedihan yang baru lagi.
Begitulah kematian. Silih berganti, menghampiri milyaran manusia, terlihat acak, tapi tidak acak. Kadang terlihat wajar, kadang terdengar tidak adil. Mati tidak acak tapi niscaya. Mati tidak acak tapi rahasia.
—
Di sini, terakhir kali saya melihat Emma Antoinette Tahalea. Nenek saya.
Dalam peti putih, dengan alkitab dan baju kesayangannya. Dengan mata yang terpejam, rosario melingkar di tangan, dan beberapa pesan terakhir untuk saya yang tidak sempat terucapkan.
Semua seperti sama saja. Seperti biasa saya menyalakan AC kamar sebelum dia tidur, dan seperti besok dia akan bangun dan menyapa, “Morning, Puti,” dan saya akan menjawab, “Morning, Oma.”
Semua seperti sama saja. Seperti besok dia akan mengangkat telepon dengan canggung dan minta dijemput ke gereja.
Semua seperti sama saja. Seperti besok masih ada hari bersamanya.
—
Ini adalah salah satu cerita dari rumah duka. Cerita yang sempat tertulis, karena kebanyakan tidak tertulis.
Dan rumah duka, sesekali penuh bunga. Lalu kosong, kecuali bekas-bekas uap duka.
***
Teruntuk Oma Netty. Oma paling cantik, dan paling baik di seluruh dunia.
30 Agustus 2009

August 11th, 2009 #
Tadi malam yang masa kini saya menonton pagelaran musik Rock. Akbar. Penuh dengan pria-pria berflanel, dan bir. Ya, wanitanya juga ada tentu saja, bajunya tentu masa kini. Saya datang dengan penampilan biasa-biasa saja. Saya bukan groupies, saya bukan anak gigs (begitu bahasa masa kini-nya). Saya hanya penikmat, dan sesekali bergoyang. Saya tidak datang dengan calon suami, dan tidak bawa lomo. Saya hanya berdiri di tengah, bersama anak-anak muda lain. Saya tidak berdoa. Saya lupa.
Saya hanya mau nonton Mew.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
***
Mew adalah band asal Hellerup, Denmark, yang terbentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Jonas Bjerre (Vocalist), Bo Madsen (Guitarist), Silas Graae (Drummer) dan Johan Wohlert (Bassist) yang merupakan pendiri band tetapi keluar pada tahun 2006. Dua orang anggota pendukungnya adalah Nick Watts (Keyboardist) dan Sebastian Juel (Bassist) yang menggantikan Johan Wohlert. Mereka pindah ke London pada album yang keempat: And The Glass Handed Kites.
Album And The Glass Handed Kites meraih pengahargaan sebagai album terbaik, Special sebagai video clip terbaik, Jonas Bjerre sebagai penyanyi terbaik dalam Danish Music Awards 2006.
Mew tampil pada hari ketiga festival musik rock Java Rockin’ Land, 9 Agustus 2009.
(Berbagai sumber. Gambar dari columbia.co.uk)
August 8th, 2009 #
Kebenaran itu tidak hitam dan putih, sebagaimana bumi itu bukan datar dan disangga oleh empat gajah dan kura-kura. Kita ada pada relativitas dimana batas benar salah adalah maya dan setiap ideologi tidak ada yang sempurna lalu mata kita hanya dua. Kita ada di kanan orang di utara dan di kiri orang di selatan. Kita tidak sebaiknya merasa benar, karena kita, selalu abu-abu.
Kadang cara paling sederhana untuk benar adalah dengan tidak tahu.
Jangan bicara kebenaran absolut. Nanti kita bicara Tuhan.
August 8th, 2009 #
Kita selalu punya terlalu banyak kekhawatiran atas hidup lalu mati. 365 dalam setahun. 24 dalam satu hari. 60 dalam satu menit. Padahal kita tau kita fana.
Kita tahu semua dupa akan padam, sebagaimana semua kembang api akan terlontar, lalu hilang oleh malam. Kita tahu semua lilin yang hidup akan mati, sambil merembeti kue ulang tahun, dengan atau tanpa krim dan buah ceri. Kita tahu tiap buku akan selesai dengan sampul belakang setelah halaman-halaman kosong, dan akhir cerita. Kita tahu mereka tidak berhasil: dari Gilgamesh dari Mesopotamia kuno, sampai Lord Voldemort yang direka di abad 21.
Kita tahu kita bukan hujan, yang kekal, tapi tidak hidup. Yang tidak hidup tapi memberi kehidupan.
Kita perlu belajar untuk rela. Rela dan mengikhlaskan.
July 22nd, 2009 #
Begini Taufiq Ismail pernah membuat puisi.

Taufiq Ismail
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
1998
Saya memang belum membaca semua karya Taufiq Ismail, tapi dari yang saya telah baca dan saya dengar, saya mengagumi Beliau.
Taufiq Ismail malu jadi orang Indonesia. Tapi dia sudah membaca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970.
Jadi kalau saya sudah dari sekarang sudah malu jadi orang Indonesia, maka seumur hidup, yang bisa saya berikan pada negeri ini hanya ‘kemaluan’. Lalu malu saya pada John F Kennedy. Lalu malu saya pada Taufiq Ismail.
July 22nd, 2009 #
Saya kira kita semua punya kebutuhan akan aksara. Akan kata-kata, atau setidaknya tanda baca. Dalam agama saya, pertama kali sekali Tuhan bilang:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (QS. 96:1)
Hanya kadang kita tidak memenuhi kebutuhan itu. Seperti anak kecil yang tidak suka sayuran, atau minyak hati ikan cod. Kita tidak pernah terpaksa. Kebutuhan itu kita penuhi dengan substitusi yang lebih berwarna, baik billboard besar-besar, atau televisi.
Berdasarkan hasil temua UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklain sebagai bangsa besar.
‘Minat Baca, Siapa Peduli?‘ Oleh Hikmat Kurnia
July 14th, 2009 #
Waktu itu tidak cuma ada Boko, rumput hijau, dan langit senja. Ada Kami yang membawa kamera dan memotret dari tumpukan batu, atau ke tumpukan batu.
Ada kami, dan ada bapak ini. Dia memotong rumput yang telah terbiarkan tumbuh tidak patuh. Rumput yang memang harus dipotong bukan karena dia akan menutupi Boko (rumput toh tidak akan tumbuh setinggi itu) tapi karena jika tidak dipotong, Boko akan terlihat cuma sebagai sisa Jawa. Batu-batu yang padu, tapi tidak disinggahi. Batu-batu yang bermakna, tapi tidak dimengerti.
Teman saya, namanya Tyo, lalu memotret Bapak ini. Ironi yang menarik. Fotografi digital, dan suara rumput yang dibabat oleh sabit berkarat. Bunyinya analog dan mengalahkan bunyi yang dibiayai oleh baterai. Saya mendengar pembicaraan mereka.
Tyo mau mengirim hasil fotonya kepada si Bapak. Saat si Bapak menjawab di mana alamatnya, saya masih memotret alang-alang dan batu-batu. Namun saya perhatikan dia. Pakaian dengan warna pudar dan kulit yang keriput. Logat Jawa kental merinci alamat rumah yang tidak memiliki angka. Dia tersenyum sumringah waktu tahu akan memiliki potret diri.
Ikhlas sekali dia pada Jogjakarta.
Saya memotret mereka.

…
Lalu kembali memotret alang-alang dan batu-batu.