Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil wudlu minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.
Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?
Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.