Rumah Duka

September 1st, 2009 # 3

Dalam sebuah rumah duka, tak terhitung jumlah tangisan yang sempat menggaung. Entah berapa bait doa, berapa juta nada misa, berapa rangkai rasa belasungkawa.

Tidak pernah ada yang menghitung.

Kesedihan yang ada adalah parsial dan diskontinu. Semua sibuk bersedih hari itu, lalu kebanyakan melupakan beberapa bulan kemudian. Beberapa menikah lagi. Dan tidak pernah ada statistik rumah duka.

Rumah duka dibangun untuk sementara. Sementara menampung. Menampung duka yang kemudian menguap, lewat setiap celah waktu yang pasti. Besok ada kesedihan yang baru lagi.

Begitulah kematian. Silih berganti, menghampiri milyaran manusia, terlihat acak, tapi tidak acak. Kadang terlihat wajar, kadang terdengar tidak adil. Mati tidak acak tapi niscaya. Mati tidak acak tapi rahasia.

Di sini, terakhir kali saya melihat Emma Antoinette Tahalea. Nenek saya.

Dalam peti putih, dengan alkitab dan baju kesayangannya. Dengan mata yang terpejam, rosario melingkar di tangan, dan beberapa pesan terakhir untuk saya yang tidak sempat terucapkan.

Semua seperti sama saja. Seperti biasa saya menyalakan AC kamar sebelum dia tidur, dan seperti besok dia akan bangun dan menyapa, “Morning, Puti,” dan saya akan menjawab, “Morning, Oma.”

Semua seperti sama saja. Seperti besok dia akan mengangkat telepon dengan canggung dan minta dijemput ke gereja.

Semua seperti sama saja. Seperti besok masih ada hari bersamanya.

Ini adalah salah satu cerita dari rumah duka. Cerita yang sempat tertulis, karena kebanyakan tidak tertulis.

Dan rumah duka, sesekali penuh bunga. Lalu kosong, kecuali bekas-bekas uap duka.

***

Teruntuk Oma Netty. Oma paling cantik, dan paling baik di seluruh dunia.

30 Agustus 2009

oma

Anda berada pada

Anda sedang membaca arsip September, 2009 pada Cerita dalam Bahasa.