Malam Sebelum Pulang

January 16th, 2010 # 0

Selalu ada yang memberatkan gerakan tangan untuk berkemas, dan memperlambat kaki untuk berjalan, pada malam sebelum pulang. Entah apa definisi pulang, tapi saya memaknainya sebagai kembali ke rumah, dan rumah seharusnya adalah di manapun hati berada.

Saya kembali cepat, namun sulit sekali rasanya untuk terlelap.

Semoga semuanya baik-baik saja.

Aku Ingin

January 7th, 2010 # 0

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

—Sapardi Djoko Darmono

Ya, dengan sederhana.

Bandung

January 7th, 2010 # 0

Setiap kali saya menginjakkan kaki di kota ini setelah membuka pinta mobil, atau turun dari kereta dengan ransel bersandar pada punggung, hadir rasa lega. Lega bahwa kota ini masih di sini dan menjadi latar dari ribuan saga dan bagian dari memori. Memori para penghuni sejak lama, mahasiswa (dari yang mirip mahasiswa sampai yang tidak mirip sama sekali), atau para pengunjung yang datang dengan tujuan belanja di factory outlet. Salon Memori dan jalan Dago. Supermarket atau pasar tradisional. Kopi atau tidak kopi. Kantor pos dan alun-alun. Bahan bermeter-meter dan tukang permak. Hujan atau tidak hujan. Pengamen berbiola dan tukang bunga. Gasibu atau pasar Jumat Salman.

Jalan Ganeca.

Lega bahwa kota ini masih ada pada koordinat yang sama. Lega bahwa ketika ruang antar mobil dan atau antar manusia semakin sempit, selalu ada sisa bagi saya untuk menulis. Menulis saga saya sendiri.

Rasa lega sudah sampai.

Rasanya, pulang.

Agnostik

January 3rd, 2010 # 0

Menjadi agnostik adalah pilihan. Seperti menjadi Kristen atau Islam, dan bukannya tidak memilih sama sekali. Memilih untuk tidak memilih toh adalah pilihan, begitu kata mereka (termasuk saya) pada pemilu tahun lalu. Dan ketika agnostik didefinisikan setengahnya oleh kata skeptisisme, saya seperti membaca sebuah pembelaan. Saya pun menjadi skeptis juga. Apakah mereka agnostik, atau mereka terlalu lemah untuk menjalankan komitmen? Untuk membakar dupa, ke gereja, atau mengambil wudlu minimal lima kali sehari sebelum sembahyang.

Seperti skeptisisme saya terhadap hubungan pria wanita tanpa status pernikahan. Apakah mereka tidak mau terikat, atau memang tidak mampu memikul tanggung jawab. Atau ini semata-mata soal percaya tidak percaya? Dan Tuhan adalah persoalan kasat atau tak kasat mata?

Inilah zaman ketika kepercayaan berubah fasa, dari abstrak menjadi gaib. Dari fana, menjadi tidak ada. Ketika tidak bertanggung jawab menjadi sebuah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Adaptasi

January 1st, 2010 # 0

Saya adalah orang yang luar biasa sulit beradaptasi. Dengan zona nyaman yang sudah cukup luas, kadang saya enggan berekspansi. Kalau tidak terpaksa, saya tidak mau bersusah payah beramah tamah untuk hal yang baru. Saya malas. Atau saya khawatir semua tidak berjalan berjalan dengan sempurna, entah.

Kalau terpaksa, saya mencoba. Ada terlalu banyak alasan yang melatarbelakangi sebuah keputusan. Keputusan yang signifikan, dimana adaptasi adalah gerbang. Seberapa panjang jalan, tidaklah dipersoalkan. Namun, bisakah?

Satu, dua, dua belas keraguan ada. Saya mempertanyakan, pada diri sendiri. Bisakah? Berbagi, mengucap, memperhatikan dengan seksama. Bersabar. Berbahasa, dan menyisihkan sedikit, ataupun berkorban banyak waktu, untuk berpikir. Mempersiapkan, dan berubah. Menyesuaikan. Bersabar (disebut lagi karena ini penting). Melapangkan spasi.

Satu, dua, dua belas keraguan ada. Satu kadang menjadi dua, dan kadang dua menjadi satu. Dua bisa menjadi segala. Terlalu banyak hal yang baru. Terlalu banyak kemungkinan. Dan saya malas bertanya kembali: bisakah?

Satu jawaban, dengan lebih dari dua belas kemungkinan. Namun, seharusnya bisa, dalam kasus ini. Saat ini.

Terima kasih telah menjadi tidak terlalu asing.
Selamat beradaptasi, bersama-sama.

Entah

December 25th, 2009 # 0

Entah berapa alinea lagi yang akan saya gunakan, dalam memori saya yang tidak lapang ini, untuk merekam kalian. Keluarga kedua saya. Masa-masa jaya kita. Sebuah kota yang setiap saya sudutnya ingin saya abadikan, dalam foto atau rekaman suara, agar saya selalu ingat persis dimana saya meninggalkan separuh hati saya.

Kalau Badai Datang Malam Ini

October 7th, 2009 # 3

Kalau badai datang malam ini, saya ingin semua orang berada dalam rumah.
Termasuk para pengamen di jalanan, bersama dawai mereka.
Juga penjual bunga, juga orang-orang schizophrenia.

Kalau badai datang malam ini, saya ingin semua korban gempa merasa aman.
Walaupun mereka dalam pengungsian, dan menunggu lalu diam.
Tidak bicara, tapi jangan terluka.

Kalau badai datang malam ini, saya akan membuka pintu sedikit. Jendela sedikit.
Membuat teh hangat, dan menunggu domba-domba untuk dihitung.
Dan belasan alasan untuk tidur.

Kalau badai datang malam ini, saya ingin dia ada.
Seperti biasa, ketika tidak ada badai.
Saya ingin dia tahu.

Kalau badai datang malam ini…

Rumah Duka

September 1st, 2009 # 3

Dalam sebuah rumah duka, tak terhitung jumlah tangisan yang sempat menggaung. Entah berapa bait doa, berapa juta nada misa, berapa rangkai rasa belasungkawa.

Tidak pernah ada yang menghitung.

Kesedihan yang ada adalah parsial dan diskontinu. Semua sibuk bersedih hari itu, lalu kebanyakan melupakan beberapa bulan kemudian. Beberapa menikah lagi. Dan tidak pernah ada statistik rumah duka.

Rumah duka dibangun untuk sementara. Sementara menampung. Menampung duka yang kemudian menguap, lewat setiap celah waktu yang pasti. Besok ada kesedihan yang baru lagi.

Begitulah kematian. Silih berganti, menghampiri milyaran manusia, terlihat acak, tapi tidak acak. Kadang terlihat wajar, kadang terdengar tidak adil. Mati tidak acak tapi niscaya. Mati tidak acak tapi rahasia.

Di sini, terakhir kali saya melihat Emma Antoinette Tahalea. Nenek saya.

Dalam peti putih, dengan alkitab dan baju kesayangannya. Dengan mata yang terpejam, rosario melingkar di tangan, dan beberapa pesan terakhir untuk saya yang tidak sempat terucapkan.

Semua seperti sama saja. Seperti biasa saya menyalakan AC kamar sebelum dia tidur, dan seperti besok dia akan bangun dan menyapa, “Morning, Puti,” dan saya akan menjawab, “Morning, Oma.”

Semua seperti sama saja. Seperti besok dia akan mengangkat telepon dengan canggung dan minta dijemput ke gereja.

Semua seperti sama saja. Seperti besok masih ada hari bersamanya.

Ini adalah salah satu cerita dari rumah duka. Cerita yang sempat tertulis, karena kebanyakan tidak tertulis.

Dan rumah duka, sesekali penuh bunga. Lalu kosong, kecuali bekas-bekas uap duka.

***

Teruntuk Oma Netty. Oma paling cantik, dan paling baik di seluruh dunia.

30 Agustus 2009

oma

Lalu Suara-Suara Sonar (Revisi)

August 11th, 2009 # 1

Tadi malam yang masa kini saya menonton pagelaran musik Rock. Akbar. Penuh dengan pria-pria berflanel, dan bir. Ya, wanitanya juga ada tentu saja, bajunya tentu masa kini. Saya datang dengan penampilan biasa-biasa saja. Saya bukan groupies, saya bukan anak gigs (begitu bahasa masa kini-nya). Saya hanya penikmat, dan sesekali bergoyang. Saya tidak datang dengan calon suami, dan tidak bawa lomo. Saya hanya berdiri di tengah, bersama anak-anak muda lain. Saya tidak berdoa. Saya lupa.

Saya hanya mau nonton Mew.

Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.
Lalu suara-suara sonar.

Lalu suara-suara sonar.

***

MewMew adalah band asal Hellerup, Denmark, yang terbentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Jonas Bjerre (Vocalist), Bo Madsen (Guitarist), Silas Graae (Drummer) dan Johan Wohlert (Bassist) yang merupakan pendiri band tetapi keluar pada tahun 2006. Dua orang anggota pendukungnya adalah Nick Watts (Keyboardist) dan Sebastian Juel (Bassist) yang menggantikan Johan Wohlert. Mereka pindah ke London pada album yang keempat: And The Glass Handed Kites.

Album And The Glass Handed Kites meraih pengahargaan sebagai album terbaik, Special sebagai video clip terbaik, Jonas Bjerre sebagai penyanyi terbaik dalam Danish Music Awards 2006.

Mew tampil pada hari ketiga festival musik rock Java Rockin’ Land, 9 Agustus 2009.

(Berbagai sumber. Gambar dari columbia.co.uk)

Setengah dari

August 8th, 2009 # 0

Setengah dari kejahatan yang terjadi di bumi ini diakibatkan oleh orang-orang yang ingin merasa dirinya penting.

TS Eliot