Skip to content

Surat Untuk Ateis

Halo teman-teman penganut paham Ateis di luar sana :)

Pertama-tama, saya harap teman-teman tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Dunia sudah masuk zaman Twitter sekarang; zaman orang bacot sana-sini sudah biasa, tho?

Perkenalkan, nama saya Puti. Saya orang Islam, dan saya percaya Tuhan. Saya memanggil tuhan saya ‘Allah SWT’. Iya, ‘panggilan’, sebab begitulah saya menyebut-Nya. Panggilan bukan definisi. Panggilan, atau nama boleh jadi objektif, dimana jutaan orang lainnya memanggil tuhan saya dengan kata yang sama. Namun definisi adalah subjektif.

Adalah hal yang sangat sulit mendefinisikan Tuhan. Bagi saya, Tuhan terlalu istimewa untuk didefinisikan. Seperti cinta. Seperti cinta juga, walaupun saya tidak dapat mendefinisikannya tapi saya percaya. Saya percaya pada Tuhan saya, Allah SWT. Saya percaya Dia ada. Entah bagaimana menjelaskan caraNya mengawasi saya, melindungi saya, menyayangi saya, tapi saya merasakannya.

Saya sendiri merasa beruntung percaya bahwa Dia ada. Saya percaya bahwa Dia ada dan Maha Kuasa. Ketika saya menginginkan dapat beasiswa, saya berdoa (tentu berusaha juga). Ketika takut karena saya sering mimpi buruk, saya membaca ayat kursi. Ketika saya mendapat rezeki, saya bersyukur, dan saya percaya, ketika kita bersyukur, rezeki saya akan ditambah lagi. Ketika ibu saya menderita tumor di kepala, saya berdoa dan bernazar (alhamdulillah, ibu saya sembuh). Seharusnya lebih dari sekedar punya orang tua yang sangat kaya, punya Tuhan lebih dari luar biasa.

Doa-doa saya ada yang tidak dikabulkan. Saya tidak lolos pertukaran pelajar waktu SMA walaupun sudah belajar mati-matian. Awal tahun 2008, saya berdoa supaya punya pacar tahun itu, tapi toh tidak terkabul juga, hehe. Banyak juga sih yang ’seolah’ tidak dijawabNya. Seperti dulu waktu kecil saya minta kepada orang tua untuk dibelikan PlayStation, tapi Ayah saya tidak mau membelikan. Namun beberapa bulan kemudian saya dibelikan komputer. Hal yang lebih baik daripada yang saya minta. Saya mengerti, Tuhan juga begitu. Mungkin kalau dulu saya ikut pertukaran pelajar, mungkin saya tidak di Geologi ITB sekarang. Dan soal pacar, sekarang saya punya pacar loh. Pacar saya sekarang bukan seperti yang saya sebut dalam doa, tapi tidak apa-apa kok. Dia sahabat saya :)

Teman-teman, saya hanya sekedar bercerita loh. Jangan menganggap saya menjudge kalian jahat karena tidak percaya Tuhan ya. Saya senang berbagi, dan saya senang juga dibagi. Jadi saya juga suka bertanya. Kemudian pertanyaan saya adalah, tidak sedihkah teman-teman tidak (merasa) punya Tuhan? :(

Menyenangkan loh (merasa) punya Tuhan :)

Teman-teman, lain kali kita sambung lagi ya.

Salam,

Puti Karina Puar

Categories: Tulisan Pendek.

Tags:

Akhirnya,

Akhirnya,

Setelah beberapa malam panjang yang melelahkan,
Setelah siang-siang yang penuh,

Kita akan kembali pada udara yang terisi aroma sarapan dan pakaian yang baru dijemur
Pada kesibukan humanis yang sederhana
Pada sebuah pagi yang damai dan sementara

Akhirnya, besok.

Categories: Baris-baris.

Tags: ,

Wisuda April 2010

Katakan wisuda, dan kebanyakan orang akan berpikir tentang toga. Namun yang ada di dalam adalah sebuah pencapaian. Pencapaian atas rangkaian mimpi; mimpi untuk masuk, mimpi untuk bertahan, diakhiri dengan mimpi untuk keluar dan menyandang Ganesha di dada.

Kalian telah sampai, dan harus segera berangkat lagi. Harus ada mimpi-mimpi baru yang lebih tinggi pada hati yang tetap sederhana. Besok, lusa, dan seterusnya, kalian akan datang sebagai tamu kami. Jadi, selamat mengembara, dan buatlah kami semua bangga.

Katakan wisuda, kami mendefinisikannya sebagai, “selamat untuk segalanya.”

Categories: Tulisan Pendek.

Kau

Jingga adalah pujian pelan untuk senja. Kau, adalah ribuan senja, memanggilku pulang. #anjinggombal

Saya tidak pandai merayu, saya hanya senang memuji. Memuji senja, kemudian malam. Memuji pagi, kemudian rumput-rumput segar.

Categories: Alinea Pendek.

Kota Bernama Malam

Jauh dari keramaian, di atas bukit. Pada sesuatu yang kita sebut rumah, yang bercahaya di balik kabut. Tidak kalah oleh senja, atau shubuh; waktu adzan dikumandangkan. Waktu gelap. Waktu binatang-binatang mulai pulang.

Kita menciptakan kota bernama: Malam.

Categories: Kalimat.

Kapan Kita ke Pantai?

Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.

Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.

Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.

Categories: Tulisan Pendek.

Tags: ,